Translate

Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Diri. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Januari 2015

Apakah Jiwa Itu ?


Apakah Jiwa Itu

Apakah hidup sekedar mencari makan? Hewan pun mencari makan. Apakah hidup hanya untuk kepuasan seks? Hewan pun demikian. Apakah hanya tidur? Hewan pun tidur. Jiwa yang ada pada hewan sama yang ada pada manusia. Jiwa hanya menghidupi. Ia netral adanya. Bagaikan energi listrik. Tidak terlihat tetapi bisa menggerakkan benda. Bohlam tersebut dinyatakan menyala jika energi listrik ada. Itulah bukti bahwa ada aliran. Saat bohlam tidak dialiri energi listrik, tidak ada bukti bahwa bohlam tersebut baik atau tidak.
Listrik inilah jiwa pada manusia. Saat badan mati, listrik tetap eksis. Listrik tidak kemana mana. Ia akan mencari bohlam lagi. Hanya berganti model bohlam. Jiwa juga hanya akan mencari badan baru untuk eksis di dunia. Sayangnya jiwa sering terjebak dalam mind manusia. Ia tidak bisa bebas. Saat mind tidak terikat lagi dengan kecintaan duniawi, sang jiwa bebas merdeka. Itulah yang disebut moksha. Sang jiwa bebas merdeka. Mengapa demikian?

Tiada seorang pun bisa menjawab. Apakah jiwa lahir dan mati? Tidak juga. Ia tidak lahir ataupun mati. Mungkin Anda akan berargumen bahwa itulah Tuhan. Anda akan bersikeras, bukan hanya Tuhan yang tidak lahir ataupun mati. Semua masih asumsi dari keterbatasan pikiran manusia. Bukan dari pengalaman. Ketika ada seorang manusia sudah mengalami, Ia akan melihat kehidupan sebagai sesuatu yang indah. Semua berjalan sebagaimana adanya. Tidak mengherankan saat Sidharta Gautama melihat dan memaknai kehidupan demikian adanya. Tidak ada yang buruk dan baik. Yang ada hanya yang sadar dan yang tidak.
Mereka yang sadar akan hidup selaras dengan alam. Bersahabat dengan alam. Sebaliknya yang tidak sadar, Ia merasa bukan bagian dari alam. Mereka bisa berbuat semaunya. Alhasil, dunia pun rusak akibat ulahnya. Dia sang penguasa semesta senantiasa mengirimkan utusan Nya untuk mengingatkan. Demikian setiap zaman akan selalu datang utusan Nya.

Setiap utusan selalu berupaya mengingatkan jati diri manusia sesungguhnya. Ia lah pemilik semesta ini. Badannya bisa eksis jika mampu menjaga kelestarian lingkungan. Tanpa adanya,lingkungan yang mendukung, manusia tidak bisa hidup. Jiwa bisa berkembang jika badan merasakan ketentraman. Badan yang belum merasakan kenyamanan duniawi tidak berkembang juga. Saat badan sudah merasakan kenyamanan suatu ketika mengalami kejenuhan. Dan pikirannya akan mencari sesuatu yang berbeda. Bukan lagi makan, tidur serta kenikmatan seksualitas.

Jiwa berkembang menuju kesempurnaan. Jiwa menuju kematangan. Bagaikan proses jenjang sekolah. Taman kanak, Sekolah Dasar dst, sampai akhirnya jadi doktor. Untuk menuju kematangan jiwa, Ia mesti mengalami matimdan lahir berulang kali. Pengulangan terjadi berulang kali. Hanya dia sendiri yang tahu kapan berakhirnya. Kadang setelah memahami rahasia tersebut, manusia seperti ini tetap lahir lagi. Yang perlu dicatat adalah bahwa kelahiran terebut atas kesadaran nya sendiri. Penuh dengan perencanaan yang matang. Bukan secara tidak diinginkan. Lahir dengan penuh kesadaran untuk tujuan kebaikan manusia lainnya.

Apakah Jiwa Itu ?

Minggu, 18 Januari 2015

Masihkah Ada Jalan Bagi Kita

    
Bahwa bila waktu yang kita lewati dan kita nikmati selama ini akan berakhir dan akhir dari waktu yang kita jalani di dunia ini adalah kematian. Kematian adalah akhir dari perjalanan kita selama hidup di dunia ini dan akhir dari kematian adalah amal perbuatan yang kita lakukan semasa kita hidup di dunia ini.

Begitu sepi tidak ada yang akan menemani kita ketika waktu telah berakhir. Orang yang kita banggakan, orang yang kita cintai, dan orang-orang yang selalu mencintai kita tidak akan pernah menemani kita ketika waktu kita yang kita jalani di dunia ini telah berakhir. Hanya kesepian yang akan menemani kita dan hanya amal baik pula yang akan menjadi penolong kita ketika waktu kita telah berakhir. Kehidupan di dunia ini hanyalah sementara, tidak akan ada yang abadi di dunia ini, semuanya pasti akan berakhir. Semua yang kita lakukan dan semua yang kita kumpulkan selama di dunia ini tidak akan pernah menemani kita ketika kita sudah tiada. Ada banyak waktu yang bisa kita lewati dan kita nikmati dalam hidup ini, tetapi perlu selalu kita ingat bahwa sesungguhnya waktu yang kita nikmati ini pasti akan berakhir.

Sesungguhnya amal baik yang kita lakukan di dunia inilah yang akan menjadi teman kita sekaligus penolong kita ketika kita sudah berada di alam kedua (alam kubur). Jadi, sudah sepantasanya kita untuk senantiasa mengisi waktu yang kita jalani ini dengan berbagai perbuatan yang bermanfaat serta menjadi kebaikan yana akan menjadi teman kita di waktu yang akan datang. Janganlah kita menyia-nyiakan waktu yang telah diberikan Allah kepada kita.

Ssifat manusia yang selalu sombong dengan apa yang dimilikinya. Jika manusia sudah memiliki apa yang diinginkan, maka akan cenderung mempertahankannya, membanggakannya dan menunjukkannyapada orang lain atau bisa disebut dengan ria. Ternyata yang dibanggakan manusia adalah dunia yang dipenuhi keindahan yang fana. Keindahan dunia yang semu membuat manusia lupa akan kehidupan yang sebenarnya di akhirat kelak. Padahal dunia hanya persinggahan manusia untuk sementara. Manusia di dunia hanya pengembara yang diberi waktu singkat oleh Allah untuk mengumpulkan amal sholeh.

Semua ini mengingatkan kita untuk tidak membanggakan diri terhadap kehidupan dunia yang sementara dan senantiasa beramal sholeh, karena yang menemani kita nanti adalah amal sholeh kita yang kita lakukan di dunia. Tak ada yang patut kita banggakan di dunia ini, karena keindahan dunia itu hanya semu dan sementara. Tugas kita di dunia tak lain hanyalah melakukan amal sholeh, melakukan amar ma’ruf nahyi munkar karena segala yang kita miliki akan kembali pada Allah. Dan di alam kuburpun kita akan sendirian menghadapi pertanyaan malaikat maut. Hanya amal sholeh yang akan menyelamatkan kita.

Masihkah Ada Jalan Bagi Kita

Manusia Dan Alam Satu Kesatuan (Wujud)

Manusia Dan Alam Satu Kesatuan

Mengasihi alam adalah mengasihi diri sendiri, mengapa demikian? Sebab pada hakekatnya langit, bumi, manusia, dan laksa benda di alam semesta adalah satu kesatuan yang bulat, yang tak boleh kurang satu pun dari keempatnya. Jika hanya ada unsur langit, bumi, dan laksa makhluk, namun tidak ada unsur manusia, keberadaan alam menjadi tidak bermakna.

Sebaliknya, tanpa langit dan bumi, manusia dan laksa benda tidak akan dapat eksis. Demikian pula bila hanya ada langit, bumi, dan manusia, namun tidak ada laksa benda lainnya, manusia tak mungkin dapat bertahan hidup dan alam raya pun menjadi ruang hampa yang penuh kesunyian. Langit, bumi, manusia, dan laksa benda adalah empat komponen pembentuk alam semesta yang saling bergantung dan berkaitan erat.

Sebagai bagian dari alam, manusia tidak boleh hidup eksklusif dari alam. Namun materialisme, utilitarianisme dan tehnologi telah membuat manusia berseru lantang mau menaklukkan alam semesta! Begitu manusia menyatakan diri beroposisi dengan alam, maka selangkah demi selangkah, pelan namun pasti, manusia telah membawa masa depannya ke dalam jurang kehancuran!

Pada hakekatnya Langit bagaikan otak, bumi bagaikan tulang, otot dan pembuluh darah, sedangkan manusia adalah badan jasmani, sementara laksa benda adalah mata, hidung, telinga, mulut, alis, rambut, tangan, dan kaki. Perpaduan semua bagian dan organ inilah yang membentuk tubuh seorang manusia yang utuh.

Demikian pula adalah perpaduan keempat komponen: langit, bumi, manusia dan laksa benda yang membentuk alam menjadi semesta raya yang sempurna. Sebagai bagian dari alam, manusia harus hidup sejalan dan seirama dengan alam, dan inilah kebenaran hidup. Prilaku yang dibuat-buat, sikap munafik, keegoisan, keakuan, keserakahan, kejahatan, nafsu, dan ambisi yang berlebihan adalah bertentangan dengan kebenaran alam.

Menyaksikan keindahan, keharmonisan, keseimbangan dan keselarasan serta efisiensi alam yang sempurna, kita hanya dapat berdecak kagum akan kebesaran dan keagungan Sang Pencipta, LAOMU Yang Maha Pengasih. Surya, rembulan dan bintang yang gemerlap, samudera dan daratan yang luas, gunung yang tinggi menjulang, sungai yang tak henti mengalir, langit yang biru, awan yang putih, pohon yang rindang, rumput yang hijau, bunga yang indah berwarna-warni dan harum semerbak, unggas yang terbang di angkasa, hewan yang berlarian di hutan, ikan yang berenang di air, serta angin, hujan, embun, pelangi, dan kilauan senja, adalah lukisan alam yang indah menakjubkan, adalah manifestasi energi kehidupan alam yang paling nyata!

Sayang sekali, karena arogansi, kesombongan, dan ketidaktahuan, manusia menganggap diri sebagai penguasa dan penakluk alam, dan tidak pernah mau menghargai kehidupan makhluk lain. Menganggap adalah haknya untuk menguasai dan mengekploitasi kehidupan makhluk dan benda lain sekehendak hatinya.

Bertolak dari pandangan ‘Manusialah yang Termulia’ yang egoistik, manusia merusak alam dengan semena-mena, bahkan menghambur-hamburkan sumber daya alam tanpa rasa sayang sedikitpun. Namun, begitu manusia mencoba menghancurkan alam, yang terjadi adalah manusia menghancurkan dirinya sendiri!

Ketika manusia menghambur-hamburkan sumber daya alam, yang terjadi adalah manusia sedang menyia-nyiakan hidupnya sendiri. Adalah sebuah fakta yang tak terpungkiri bahwa manusia adalah alam semesta itu sendiri. Manusia adalah bagian dari kesatuan alam yang tak terpisahkan. Baik makhluk unggas, yang merayap atau yang hidup dalam air adalah denyut nadi dan nafas kehidupan alam yang paling nyata, dinamis dan hidup!

Gugusan gunung yang asri, bumi yang hening-diam, rerumputan yang menghijau, pepohonan yang rindang, langit biru yang luas tanpa batas, awan yang indah dengan sejuta bentuk, telaga yang hening bagaikan cermin, dan langit dengan bintang-bintang yang bergemerlapan, adalah keindahan alam yang hening.

Sementara burung yang beterbangan, ikan yang berenang ke sana ke mari, hewan yang berlarian dalam keriangan, dan gemericik mata air, sungai yang mengalir deras, samudera yang bergelora, serta berdesirnya angin, rintik-rintik hujan, gemuruh guntur, kicauan burung, kokok ayam, dan nyanyian serangga, adalah keindahan alam yang dinamis.

Alam semesta, langit, bumi, makhluk dan benda tidak berbicara, dan manusialah yang menjadi penyampai kata. Manusialah yang berkewajiban menerjemahkan segala keindahan alam. Manusialah yang harus menjadi ‘juru bicara’ alam semesta. Tetapi bukan berarti manusia menjadi juru alam dalam segala-galanya. Manusia tidak berhak menentukan masa depan dan nasib makhluk lain. Hidup-matinya semua makhluk tidak berada di tangan manusia.

Manusia harus hidup berdampingan dengan makhluk lain di bumi yang satu dan sama ini. Manusia harus menyadari betapa ia dan makhluk lain berasal dari satu akar yang sama, sehingga tidak semestinya saling membinasakan.

Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang berakal budi dan termulia, sudah semestinya manusia memiliki rasa cinta dan belas kasih terhadap semua makhluk. Dengan demikian barulah manusia pantas dihormati sebagai makhluk yang berbudi dan termulia.

Janganlah manusia menempatkan diri di atas segala-galanya, lalu dengan sekehendak hati membunuh makhluk lain. Konsep pengagungan diri demikian adalah sangat keliru dan tidak etis. Jangan lupa bahwa langit dan bumi bagaikan kedua orang tua kita, sementara makhluk lain adalah saudara. Oleh sebab itu mengasihi alam adalah sama dengan mengasihi kedua orangtua dan saudara kita, bahkan adalah mengasihi kehidupan kita sendiri!

Manusia Dan Alam Satu Kesatuan (Wujud)

Sabtu, 17 Januari 2015

Hai Penggemar Dunia, Suatu Saat Kau Harus Bayar Semua Itu

Orang yang hanya mengisi kehidupannya dengan hura hura, senda gurau, dan mengejar kenikmatan duniawi mengira bahwa semua itu akan membahagiakan dirinya. Dia tidak menyadari bahwa suatu saat ia harus membayar semua kenikmatan semu yang dijalaninya itu dengan kesedihan, kegelisahan dan penderitaan yang berkepanjangan. Allah SWT berfirman , ” Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (Al Balad 4). Itulah sifat dasar manusia, yaitu selalu merasa berada dalam kesempitan dan kekurangan. Oleh karena itu, setiap manusia harus selalu menyadari posisinya dan menata kehidupannya.

Hai Penggemar Dunia, Suatu Saat Kau Harus Bayar Semua Itu

Hanya Tuhan Yang Tahu Kebenaran

Pernahkah ada yang membaca kalimat seperti judul diatas atau sejenisnya? Ya seperti “Kebenaran hanya milik Tuhan, manusia tidak tahu kebenaran”, “hanya Tuhan yang boleh menghakimi, manusia tidak boleh menghakimi”, “benar tidaknya hanya Allah yang tahu, kita tidak boleh menilai orang salah atau benar”, dst.
Sepintas mungkin terlihat benar, sepintas mungkin memang terlihat indah, sepintas tidak ada masalah pada kalimat-kalimat tersebut. Tapi jika diperhatikan lebih lanjut, ada masalah dalam kalimat-kalimat tersebut. Memang, hanya Allah lah Yang Mahatahu segalanya, kebenaran hakiki hanyalah milik Allah semata. Namun, jika memang kebenaran itu hanya Allah yang tahu, lalu bagaimana kita bisa hidup dalam kebenaran? Sedangkan Rasulullah mengajarkan kita untuk hidup dalam kebenaran, dalam kebaikan, dalam nilai-nilai Ilahi.
Ya, itu memang ucapan-ucapan yang sering digembar-gemborkan oleh orang-orang yang memiliki agenda merusak pola pikir umat Islam (contohnya JIL), atau mungkin orang-orang yang menjadi korban mereka. Di tangan mereka, di ucapan mereka, kebenaran menjadi relatif, kebenaran menjadi tergantung siapa yang mendefinisikan kebenaran tersebut, termasuk kebenaran dalam hal agama Islam ini. Liberal sekali! Orang-orang jadi ragu untuk menyatakan mana yang salah dan mana yang benar. Orang-orang jadi ragu untuk mencegah kemungkaran dan malas untuk mengajak kepada kebaikan, karena semuanya relatif, karena hanya Tuhanlah yang tahu apa itu kebenaran. Begitukah?
Seperti yang saya sebutkan tadi, jika memang kebenaran hanya Tuhan yang tahu, jika memang manusia sama sekali tidak boleh menghakimi lalu bagaimana kita harus menilai mana yang salah dan benar? Lalu apa gunanya hukum-hukum yang ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah? Jadi, apakah kebenaran itu?
Kebenaran adalah apa-apa yang berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala dan disampaikan oleh Rasul-Nya yang mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa saja yang diperintahkan-Nya maka itulah yang harus kita ikuti, karena itu kebenaran. Apa saja yang dilarang-Nya maka itulah yang harus kita hindari, itulah kebenaran. Allah melarang kita makan babi dan bangkai, maka makan babi dan bangkai itu salah. Allah melarang kita untuk berzina maka berzina adalah salah. Rasulullah tidak pernah menyentuh wanita yang bukan mahramnya maka itulah yang benar. Begitulah seterusnya.
Adakah kebenaran yang relatif? Ya ada, yaitu kebenaran yang berasal dari penemuan manusia, seperti F=m.a, 1+1 =2, dan produk-produk manusia lainnya. Karena manusia memang bisa salah, bahkan memang tempat salah. Namun bagaimana dengan Al-Qur’an? tentu tidak, kebenarannya mutlak. Bagaimana dengan hadits Nabi (yang shahih)? tentu benar. Namun memang, untuk memahami Al-Qur’an dan hadits memang perlu ilmunya, tidak sembarang orang boleh menafsirkan semaunya. Itulah yang bisa salah, bukan kandungannya yang salah.
Lalu apakah betul kebenaran hanya Allah yang tahu? Kebenaran memang milik Allah, tapi Allah telah mengajarkannya kepada kita melalui lisan Rasul-Nya dan para sahabat-sahabat Nabi, hingga kini diwarisi oleh para ulama yang senantias berpegang teguh dengan sunnahnya. Jadi, jangan sampai kita ragu akan kebenaran yang memang datangnya dari Allah, jangan ragu mencegah kemungkaran, dan jangan ragu menyampaikan kebenaran, dengan cara yang benar tentunya. 
wallahu a’lam bish shawwab

Hanya Tuhan Yang Tahu Kebenaran

Fadhilah Sifat Diam, menjaga lidah dari hal-hal yang tercela

Fadhilah Sifat Diam 
Fadhilah sifat diam, menjaga lidah dari hal-hal yang tercela.
Hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
عن أبي هريرة رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قال: ((من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت)) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam”.Muttafaq ’alaih. [1]
Hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
عن أبي موسى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  قال: قلت: يا رَسُول اللَّه! أي المسلمين أفضل؟ قال: (من سلم المسلمون من لسانه ويده) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah orang muslim yang paling utama?”, beliau bersabda:  “Orang yang apabila kaum muslimin yang lain merasa selamat dari gangguan  lidah dan tangannya”. Muttafaq ’alaih. [2]

[1]. muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6475 dan  Muslim no hadist: 47. [2]. muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :11 dan  Muslim no hadist: 42.

Fadhilah Sifat Diam, menjaga lidah dari hal-hal yang tercela

Menanggapi Perkataan "Janganlah Merasa Paling Benar Sendiri!"


Janganlah Merasa Paling Benar Sendiri

Ucapan ini kerap kali terdengar ketika ada dua orang yang saling berselisih tentang suatu permasalahan, khususnya dalam permasalahan agama. Untuk itu, marilah kita membedah maksud dari perkataan ini, sehingga kita tidak salah dalam menempatkan kalimat ini dalam permasalahan yang tidak sepantasnya kalimat ini diucapkan.
Maka kita perlu mengetahui sembilan point berikut sebagai tanggapan ucapan tersebut:
1. kita memeluk AGAMA ISLAM, karena KEBENARANnya dan kita MEYAKINI akan kebenaran tersebut. demikian halnya segala sesuatu yang didalamnya, yakni SYARI’ATnya. SYARI’AT yang datang dari Allah TELAH JELAS dan SEMUANYA telah dijelaskan oleh Allah dan RasulNya.
2. Hikmah diturunkan Al Qur-aan dan diutusnya Rasul adalah MENEGAKKAN kebenaran, yang dengannya Allah membantah KEBATHILAN ahlul baathil dan merendahkannya, serta meninggikan ahlul haq.
3. Maka dengan melihat point kedua, tidak boleh lagi ada yang berkata:
“jangan engkau katakan ini sesat, itu sesat; karena yang lebih tahu tentang sesat atau tidaknya adalah Allah. hanya Allah-lah yang benar.”
tanggapan:
- jika seseorang mengatakan “ini sesat, itu sesat” TANPA berlandaskan HUJJAH, maka ini adalah kebodohan. sesat apakah yang dimaksudkannya? sesat dari jalan mana? kalau ia mengatakan “sesat dari jalan Allah”; maka kita katakan: “datangkanlah HUJJAH, dijalan Allah manakah kesesatan tersebut”. janganlah sampai engkau mengadakan kedustaan atas nama Allah! ingatlah ini merupakan suatu dosa yang sangat besar!
- yang jadi permasalahan ketika seseorang malah disalahkan ketika ia menyatakan sesat terhadap sesuatu yang telah dijelaskan Allah dan RasulNya akan kesesatan tersebut.
kita mengimani bahwa Allah telah menurunkan Al Qur-aan sebagai Al Furqaan (pembeda yang haq dan yang baathil, yang lurus dan yang sesat); maka jika apa yang dikatakan sesat oleh Al Qur-aan, maka itulah kesesatan.
kita telah mengimani bahwa Allah telah mengutus RasulNya untuk MENJELASKAN Al Qur-aan dan untuk menjadi hakim atas segala perselisihan manusia tentang agamanya. maka apa yang dikatakan sesat oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, maka itulah kesesatan.
benar, bahwa Allah, Dialah Yang Benar (al-Haq); tapi ketahuilah, al-haq tersebut telah ada ditengah-tengah kita dengan diturunkanNya al Qur-aan yang membawa kebenaran dan dengan diutusNya RasulNya yang memberi kabar gembira dan yang memberi peringatan (lihat al Isra: 105). apakah engkau tidak mengakuinya? apakah engkau tidak mau berhukum dengannya untuk menyelesaikan permasalahanmu?
mungkin ia mengira bahwa pengingkaran terhadap kesesatan seperti ini adalah perpecahan, sehingga tidak boleh ada pengingkaran. ya subhanallah, apakah yang dimaksud dengan perpecahan? apakah yang dimaksud dengan persatuan? yang dimaksud dengan perpecahan adalah orang yang menyelisihi kebenaran, sedangkan yang dimaksud dengan persatuan adalah orang yang mengikuti kebenaran.
maka orang-orang yang berkumpul diatas kesesatan, tidaklah disebut sebuah persatuan, dan tidak akan pernah umat ini berkumpul diatas kesesatan, akan selalu ada diantara umat ini yang akan tetap berada diatas kebenaran, menyelisihi kebathilan-kebathilan yang diperbuat oleh para pengikut hawa nafsu.
maka orang-orang yang hendak menghalang-halangi orang yang mengingkari kesesatan inilah yang patut untuk merenungi hal-hal berikut:
- apakah engkau hendak membiarkan terjadinya kesesatan dalam agama ini?
- apakah engkau hendak meluaskan kesesatan dalam agama ini?
- apakah engkau mengira kesesatan tersebut merupakan kebenaran?
- atau apakah engkau hendak mengatakan kesesatan itu adalah bagian agama ini?
akan tetapi yang perlu diingat, seseorang yang mengingkari kesesatan HARUS SESUAI DENGAN SYARI’AT, bukan dengan cara-cara yang baathil; tidaklah kesesatan itu dilawan dengan cara-cara yang sesat pula.
(simak pembahasan tentang ini disini)
4. Maka jika terjadi perselisihan, yang menghukumi benar atau salahnya adalah KITABULLAH dan SUNNAH Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menurut PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH.
sehingga tidak boleh ada berkata DIKEMBALIKAN KEPADA MASING-MASING. tapi dikembalikan kepada Allah (kitabNya) dan RasulNya (sunnahnya) menurut PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH.
dikatakan mengembalikan kepada PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH, karena bisa saja kedua pihak berselisih MENCARI PEMBENARAN, dengan ASAL COMOT dalil-dalil dari qur-aan dan sunnah dengan PEMAHAMANNYA MASING-MASING tanpa merujuk pada pemahaman yang DIAKUI oleh Allah dan RasulNya, yaitu pemahaman para shahabat; untuk MEMBENARKAN kesesatannya.
simak:
maka orang yang mengatakan (kembali kepada al qur-aan dan as-sunnah, dengan pemahamn masing-masing) tidak ada bedanya dengan golongan pertama yang berkata: “kembalikan saja pada masing-masing” dan inilah pemahaman LIBERAL yang sesat dan menyesatkan, yang menjangkiti banyak kaum muslimin.
5. jika menurut al-qur’an dan as-sunnah sesuai pemahaman salafush shalih itu benar, maka kita benarkan.
lantas APAKAH SALAH, seseorang yang mengatakan DIRINYA BENAR, sedangkan ia berlandaskan dengan DALIL-DALIL yang SHAHIIH (diatas kitabullah dan sunnah rasulullah shalllallahu ‘alayhi wa sallam dengan PEMAHAMAN salafush shalih)?!
6. kita tidak menafikkan akan ADANYA perselisihan diantara dua belah pihak (atau bahkan lebih) yang TELAH MENGEMBALIKAN perkaranya kepada al-qur’an dan as-sunnah sesuai pemahaman salafush shalih…
namun TETAP SAJA hanya ada SATU kebenaran. namun penyikapannya tentu TIDAK SAMA dengan penyikapan terhadap orang yang MENYELISIHI al qur-aan dan as-sunnah (menurut pemahaman salafush shalih), dan ijma’.
maksudnya, TIDAK DIBENARKAN dalam masalah-masalah seperti ini, seseorang BERKACAMATA KUDA, menganggap dalam perkara ini yang ada hanya pendapatnya saja, atau menganggap hal ini merupakan IJMA’ kaum muslimin yang tidak boleh diselisihi, sehingga ia MENGINGKARI dengan keras pendapat yang menyelisihinya, bahkan MENYESATKAN orang yang menyelisihinya.
dan dalam perkara ini PASTILAH orang-orang yang berselisih AKAN SALING MENYELISIHI berdasarkan kandungan dalil yang mereka dapati dan sudut pandang yang mereka pegang pada masing-masing pihak.
tidaklah perselisihan yang seperti ini dikatakan sebagai “perpecahan”, tidak sepantasnya pula perselisihan seperti ini dapat mengakibatkan perpecahan diantara kaum muslimin.
Dalam masalah-masalah yang memungkinkan terjadinya khilaf diantara para ulama, dan khilaf itupun DIAKUI oleh ULAMA AHLUS-SUNNAH; tidak dibenarkan sebagian pihak menyesatkan sebagian yang lain.
Mari kita menyimak nasehat syaikh al ‘utsaimin berikut:
kita wajib untuk tidak menjadikan perselisihan di antara ulama’ ini sebagai penyebab perpecahan, karena kita seluruhnya menghendaki al-haq, dan kita seluruhnya telah melakukan segala usaha yang ijtihad-nya membawa ke sana.
Maka selama perselisihan itu (seperti ini), sesungguhnya kita tidak boleh menjadikannya sebagai sebab permusuhan dan perpecahan diantara ahlul ilmi, karena sesungguhnya para ulama’ itu selalu berselisih, walaupun di zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam..
Kalau begitu, maka yang menjadi kewajiban bagi thalibul ilmi hendaklah mereka bersatu, dan janganlah mereka menjadikan perselisihan semacam ini sebagai sebab untuk saling menjauhi dan saling membenci.
Bahkan jika engkau berbeda pendapat dengan temanmu berdasarkan kandungan dalil yang engkau miliki, sedangkan temanmu menyelisihimu berdasarkan kandungan dalil yang ada padanya, maka kalian wajib untuk menjadikan diri kalian diatas satu jalan dan hendaklah kecintaan bertambah di antara kalian berdua.”
(Kitabul ilmi, oleh Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hal: 28-30, penerbit: Daar ats-Tsurayya, cet: I, th:1417 H. 1996 M)
7. perkataan “jangan merasa benar sendiri” ini, jika yang mengatakannya adalah orang yang berada diatas kebathilan, maka ini hanyalah ANGAN-ANGAN KOSONGnya.
agar sekiranya, KEBATHILANnya juga DIANGGAP sebagai sebuah kebenaran. sehingga ia BERANGAN-ANGAN orang yang memang berada diatas kebenaran menerima kebathilannya, dan BERANGAN-ANGAN agar orang tersebut mengatakan: “engkau benar, akupun benar, dan kita tidak saling mengusik” mungkin itulah ANGAN-ANGANnya!
8. jika orang yang berada diatas kebenaran disebut “merasa paling benar”, maka kita katakan, orang tersebut tidaklah ‘merasa’ tapi MEMANG ia berada diatas kebenaran.
9. jika orang yang berada diatas kebathilan tersebut yang mengatakan perkataan demikian, maka kita katakan, yang seharusnya disebut “merasa paling benar” adalah pelaku kebathilan ini, bagaimana tidak? mereka diseru untuk merujuk kebenaran, tapi mereka menolak. cukuplah bagi mereka sebutan ‘merasa benar sendiri”…
Semoga bermanfaat..

Menanggapi Perkataan "Janganlah Merasa Paling Benar Sendiri!"

Rabu, 07 Januari 2015

ILMU HATI

Hati memegang peranan penting bagi manusia. Baik dan buruknya seseorang ditentukan oleh hati sebagaimana Hadis Nabi:
...اَلاَوَاِنَّ فِى الْجَسَدِ مُدْغَةً اِذَاصَلُحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَاِذَافَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ آلآوَهِيَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam tubuh itu ada segumpal darah, bila ia telah baik maka baiklah sekalian badan.Dan bila ia rusak, maka rusaklah sekalian badan. Dan bila ia rusak maka binasalah sekalian badan, itulah yang dikatakan hati”.
Demikianlah pentingnya peranan hati bagi manusia, oleh sebab itu manusia wajib menjaga kesucian hatinya. Adapun yang menjadi penyebab kotornya hati manusia itu adalah disebabkan berbagai penyakit yang terdapat padanya sebagaimana dijelaskan oleh firman Allah:
فِى قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ
“Di dalam hati mereka ada penyakit”. (Q.S. 2 Al-Baqarah: 10)
Menurut Syekh Muda Ahmad Arifin terdapat 6666 ayat Al-Qur’an dan 6666 urat di dalam tubuh manusia, demikian halnya dengan hati manusia, ada 6666 penyakit di dalam hati manusia. Dari sekian banyak penyakit yang ada di dalam hati manusia, ada beberapa penyakit hati yang paling berbahaya, di antaranya: hawa nafsu, cinta dunia, loba, tamak, rakus, pemarah, pengiri, dendam, hasad, munafiq, ria, ujub, takabbur. Jadi bila tidak diobati, maka sambungan ayat mengatakan:
فَزَادَهُمُ اللهُ مَرَضًا
“Lalu ditambah Allah penyakitnya”. (Q.S. 2 Al-Baqarah: 10)
            Demikianlah bahayanya apabila manusia itu tidak segera membersihkan hatinya, maka Allah akan terus menambah penyakitnya. Oleh sebab itu kewajiban pertama bagi manusia adalah terlebih dahulu ia harus mensucikan hatinya sebagaimana firman Allah:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّ
“Beruntunglah orang yang mensucikan hatinya dan mengingat Tuhan-Nya, maka didirikannya sembanhyang”. (Q.S. 87 Al-A’la: 14-15)
            Dari penjelasan surah Al-A’la di ayat 14 dan 15 di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ada tiga kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada manusia:
1. Kewajiban Mensucikan Hati
            Di dalam surah Al-A’la ayat 14 Allah menyatakan bahwa orang-orang yang telah mensucikan hatinya sesungguhnya telah memperoleh keberuntungan. Lalu dibenak kita timbul beberapa pertanyaan:
-          Apa yang dimaksud dengan hati yang bersih?
-          Bagaimana cara membersihkan hati?
-          Mengapa orang yang mensucikan hatinya disebut orang yang beruntung?
-          Apa keuntungan yang diperoleh oleh orang yang telah mensucikan hatinya?
Pertama, apa yang dimaksud dengan hati yang bersih? Menurut Syekh Muda ahmad Arifin yang dimaksud dengan hati yang bersih yaitu tidak ada di dalam hati itu selain Allah. Artinya seseorang yang disebut hatinya bersih adalah orang yang senantiasa selalu mengingat Allah. Itulah sebabnya para sufi berkata:
قَلْبُ الْمُؤْمِنِيْنَ بَيْتُ اللهُ
“Hati orang mukmin itu adalah rumah Allah”.
            Kedua, bagaimana cara membersihkan hati? Menurut Syekh Muda Ahmad Arifin satu-satunya cara membersihkan hati yaitu dengan mempelajari ilmu hati. Ilmu hati ini lazim disebut dengan beberapa nama di antaranya: ilmu batin, ilmu hakikat, ilmu tarekat. Menurutnya tujuan mempelajari ilmu hati adalah untuk mengenal Allah, sebab hati merupakan sarana yang telah ditetapkan oleh Allah untuk dapat menyaksikan-Nya sebagaimana firman Allah:
مَاكَذَبَ الْفُؤَادُ مَارَآى
“Tidak dusta apa yang telah dilihat oleh mata hati”. (Q.S. An-Najm: 11)
            Jadi hanya dengan mempelajari ilmu hatilah kita baru dapat mengenal Allah. Apabila kita telah dapat mengenal Allah, barulah kita dapat mengingat-Nya. Dan mengingat Allah merupakan satu-satunya cara untuk membersihkan hati sebagaimana Hadis Nabi:
لِكُلِّ شَيْءٍ صَقَلَةٌ وَصَقَلَةُ الْقَلْبُ ذِكْرُاللهُ
“Segala sesuatu ada alat pembersihnya dan alat pembersih hati yaitu mengingat Allah”.

            Ketiga, mengapa orang yang mensucikan hatinya disebut orang yang beruntung? Menurut Syekh Ahmad Arifin penyebab Allah menyebut orang-orang yang telah mensucikan hatinya sebagai orang-orang yang beruntung adalah disebabkan karena sesungguhnya hanya orang-orang yang telah mensucikan hatinyalah yang dapat mengenal Allah. Menurut al-Ghazali hati manusia berfungsi sebagai cermin yang hanya bisa menangkap cahaya ghaib (Allah) apabila tida tertutup oleh kotoran-kotoran keduniaan. Sesungguhnya hanya orang-orang yang telah mensucikan hatinyalah yang dapat mengenal Allah dan merekalah yang disebut sebagai orang-orang yang beruntung.
            Keempat, apa keuntungan yang diperoleh oleh orang yang telah mensucikan hatinya? Menurut Syekh Muda Ahmad Arifin keuntungan yang diperoleh oleh orang yang telah mensucikan hatinya adalah dapat mengenal Tuhannya. Itulah sebabnya Allah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّهَا
“Beruntunglah orang yang telah mensucikan hatinya dan merugilah orang yang telah mengotorinya”. (Q.S. 91 As-Syamsi: 9-10)
            Itulah sebabnya pada ayat di atas Allah memuji orang-orang yang telah mensucikan hatinya, sebab hanya orang-orang yang telah mensucikan hatinya yang dapat mengenal Allah. Adapun orang-orang yang mengotorinya adalah orang-orang yang merugi, karena sesungguhnya orang-orang yang hatinya kotor tidak akan pernah dapat mengenal Tuhannya.
2. Kewajiban Mengingat Allah
            Kewajiban yang kedua adalah mengingat Allah, sebab mustahil kita dapat mengingat Allah kalau kita belum mengenal-Nya dan mustahil kita dapat mengenal-Nya kalau kita belum pernah berjumpa. Dan mustahil kita dapat berjumpa dengan Allah tanpa terlebih dahulu menyertakan diri dan belajar kepada orang yang telah dapat beserta Allah. Itulah sebabnya Nabi memerinthakan kepada kita agar menyertakan diri kepada orang yang telah serta Allah sebagaimana sabda Nabi:
كُنْ مَعَ اللهُ وَاِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ اللهِ فَكُنْ مَعَ مَنْ كَانَ مَعَ اللهِ فَإِنَّهُ يُوْصِلُكَ اِلَى اللهِ
“Sertakanlah kepada Allah, apabila kamu tidak dapat beserta Allah maka sertakanlah dirimu kepada orang yang telah serta Allah, maka ia akan mengenalkan kamu kepada Allah”.
            Berdasarkan Hadis di atas, maka kewajiban pertama bagi manusia adalah mencari guru (wasilah) agar ia dapat memperoleh pengenalan kepada Tuhannya. Setelah manusia itu dapat mengenal Allah maka kewajiban kedua baginya adalah mengingat Tuhan-Nya.
3. Kewajiban Mengerjakan Shalat
            Shalat merupakan tiang agama yang dilaksanakan apabila kita telah melaksanakan kewajiban pertama dan kedua, sebab tujuan shalat adalah untuk mengingat-Nya sebagaimana firman Allah:
اِنَّنِى أَنَااللهُ لاَإِلَهَ اِلاَّ أَنَا فَاعْبُدْنِى وَأَقِمِ الصَّلَوةَ لَذِكْرِى
“Sesungguhnya Aku inilah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (Q.S. 20 Thaha: 14)
            Firman Allah di atas senada dengan firman Allah pada surat Al-A’la ayat 14 dan 15 yang telah diuraikan sebelumnya. Untuk mengetahui secara jelas persamaan makna yang terdapat pada kedua ayat tersebut penulis akan menguraikan kalimat perkalimat pada surat Thaha ayat 14 serta membandingkannya dengan surat Al-A’la ayat 14.
            Pertama, pada bagian awal surat Thaha ayat 14 Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku ini Allah”. Bila kita menganalisis firman Allah tersebut maka dapatlah kita ketahui bahwa sesungguhnya Allah itu ingin dikenal. Firman Allah pada surat Thaha tersebut senada dengan firman Allah pada surat Al-A’la ayat 14: “Beruntunglah orang-orang yang mensucikan hatinya”. Makna beruntung pada ayat ini adalah bahwa keuntungan yang diperoleh oleh orang-orang yang mensucikan hatinya adalah dapat mengenal Allah. Bahkan bila kita analisis lebih jauh selain memiliki persamaan makna, kedua ayat tersebut juga memiliki kaitan di mana ayat yang satu berfungsi sebagai penjelas bagi yang lain. Pada surah Thaha Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku ini Allah”. Ayat tersebut mengintruksikan kepada manusia kewajiban untuk mengenal Allah. Pada surah al-A’la ayat 14 Allah berfirman: “Beruntunglah orang-orang yang mensucikan hatinya”. Pada ayat ini Allah memuji orang-orang yang mensucikan hatinya, sebab hanya orang-orang yang mensucikan hatinyalah yang dapat mengenal Allah dan merekalah yang dinyatakan Allah sebagai orang-orang yang beruntung. Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa firman Allah pada surat Thaha ayat 14 keduanya mengindikasikan bahwa kewajiban pertama bagi manusia adalah terlebih dahulu mensucikan hatinya agar ia dapat mengenal Tuhannya.
            Kedua, pada bagian tengah surat Thaha Allah berfirman: “Tiada Tuhan selain Aku”. Bila kita analisis firman Allah di atas, maka dapat kita ketahui bahwa maksud yang terkandung di dalamnya adalah perintah untuk mengingat-Nya, sebab kalimat  “Tiada Tuhan selain Allah”, bermakna tidak ada yang boleh diingat selain Allah. Firman Allah pada surat al-A’la ayat 15: “Dan mengingat Tuhannya”. Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa kewajiban yang kedua bagi manusia adalah mengingat Tuhannya.
            Ketiga, pada bagian akhir surat Thaha Allah berfirman: “Sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. Bila kita analisis pada ayat di atas bahwa printah sembah datang setelah terlebih dahulu Allah memerintahkan untuk mengenal dan mengingatnya. Perintah sembah tersebut diwujudkan dengan mendirikan shalat yang tujuannya adalah untuk mengingat-Nya. Firman Allah tersebut senada dengan firman Allah pada surat al-A’la ayat 15: “Maka dirikanlah shlalat”. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa kedua ayat tersebut sama-sama mengindikasikan bahwa shalat merupakan kewajiban ketiga.
            Dari penjelasan di atas dapatlah kita ketahui mengapa para sufi menaruh perhatian besar terhadap hati (qalb) dan menempatkan shalat sebagai kewajiban ketiga. Karena sesungguhnya perintah shalat itu diterima setelah terlebih dahulu Jibril mensucikan hati Nabi Muhammad sebelum ia menghadap Allah. Sebab Allah itu tidak dapat dilihat oleh mata kepala Nabi Muhammad tetapi hanya dapat dilihat oleh mata hati Nabi Muhammad. Oleh sebab itu sebelum Nabi Muhammad berjumpa dengan Allah, terlebih dahulu Jibril mensucikan hatinya, agar nur yang ada di dalam mata hatinya itu dapat memancar, sebab dengan nur itulah Nabi Muhammad dapat menyaksikan Allah. Itulah sebabnya di dalam surah al-Isra’ ayat 1 Allah menggunakan kalimat Maha Suci, sebab Allah itu Maha Suci dan hanya dapat dilihat oleh hamba-hamba-Nya apabila mereka telah mensucikan hati mereka.
            Adapun makna Jibril mensucikan hati Nabi Muhammad menurut Syekh Muda Ahmad Arifin pada hakikatnya adalah sesungguhnya Malaikat Jibril menyampaikan pengenalan kepada Allah dalam istilah ilmu tarekat lazim disebut dengan bai’at. Praktik bai’at yang diterima oleh Nabi dari gurunya Malaikat Jibril diteruskan kepada Ali ibn Abi Thalib dan praktik seperti ini terus berlanjut dari guru ke murid dalam rangkaian silsilah hingga saat ini. Praktik bai’at yang diterapkan di kalangan ahli tarekat sesungguhnya mengacu pada pola yang dilaksanakan oleh Nabi. Jadi berdasarkan tradisi bai’at inilah muncul istilah bahwa “Barangsiapa yang tidak mempunyai syekh maka gurunya adalah setan” sebab Nabi sendiri tidak dapat mengenal Allah tanpa berguru kepada Malaikat Jibril, apalagi kita sebagai manusia biasa yang hina dan dhaif yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa di sisi Allah maka mustahil dapat mengenal Allah tanpa guru. Oleh sebab itu Nabi bersabda:
اَلْعِلْمُ عِلْمَانِ فَعِلْمُ بَطِنِ فِى قَلْبِى فَذَالِكَ هُوَ نَفِعِى
“ilmu itu ada dua macam, adapun ilmu batin yang di dalam hati itu jauh lebih bermanfaat”.
            Dari penjelasan Hadis di atas dapatlah kita ketahui bahwa tidak hanya para sufi yang menaruh perhatian besar terhadap hati, bahkan Nabi sendiri lewat Hadisnya secara tegas menyatakan keutamaan ilmu hatilah manusia dapat mengenal Allah.
            Menurut Syekh Ahmad Arifin kekeliruan umat Islam saat ini adalah tidak mau mempelajari ilmu hati dan lebih mengutamakan ilmu syari’at. Oleh sebab itu menurutnya mayoritas umat Islam saat ini tidak mengenal yang mereka sembah dan sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata sebagaimana firman Allah:
فَوَيْلٌ لِلْقَسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِنْ ذِكْرِاللهِ أُلَئِكَ فِى ضَلَلٍ مُّبِيْنٍ
“Maka celakalah bagi orang yang hatinya tidak dapat mengingat Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (Q.S. 39 az-Zumar: 22)
            Demikianlah celaan Allah terhadap orang-orang yang tidak dapat mengingat-Nya, yang kesemuanya itu disebabkan karena mereka tidak mempelajari soal hati. Namun kebanyakan umat Islam saat ini tidak tahu kalau mereka itu tidak tahu. Mereka menganggap bahwa amal ibadah mereka dapat diterima oleh Allah SWT, karena merasa bahwa tauhid mereka telah sempurna, padahal sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya orang-orang yang bertauhid si sisi Allah adalah orang-orang yang telah mempelajari ilmu hati. Sebab hanya dengan mempelajari ilmu hatilah kita baru dapat mengenal Allah. Jadi sesungguhnya orang-orang yang tidak mempelajari ilmu hati adalah orang-orang yang bertauhid di sisi manusia tetapi sesungguhnya kafir di sisi Allah, sebab tauhid mereka hanya di lidah, namun hatinya tidak pernah menyaksikan Allah. Mereka menganggap bahwa dengan mengucap dua kalimah syahadat dan percaya dalam hati berarti telah Islam dan beriman di sisi Allah. Padahal keislaman dan keimanan mereka itu barulah sebatas percaya kepada Allah. Oleh sebab itu orang-orang yang mengabaikan atau tidak mempelajari ilmu hati (ilmu tarekat) sesungguhnya adalah orang-orang yang mengabaikan tauhid.
            Dari uraian di atas dapatlah kita ketahui betapa pentingnya mempelajari ilmu hati (ilmu tarekat). Jadi dapat disimpulkan bahwa ilmu tauhid yang sesungguhnya adalah dengan mempelajari ilmu hati (ilmu tarekat).

ILMU HATI

POTENSI DIRI

Sesuai dengan paparan dari judul di atas, dimana sebaiknya kita mengenal dahulu diri kita sebelum mengenal Sang Maha Pencipta, maka pada artikel ini, penyusun mencoba mengajak pembaca menggali / mengenal potensi diri kita yang sangat luar biasa ini.
Ada sebuah kisah motivasional yang ingin saya ceritakan kepada pembaca. Kisah ini pertama kali diceritakan oleh Russel Conwell, dan kisah ini sudah diceritakan olehnya lebih dari 6000 kali semasa hidupnya. Dengan uang yang diperoleh dari kisahnya ini, Russel bahkan membangun Temple University yang hingga sekarang masih berdiri dengan megahnya.
Dalam kisah ini diceritakan tentang seorang petani miskin di Afrika bernama Ali Hafed. Meskipun miskin, kehidupannya sangat bahagia. Dan, pada suatu hari, Ali kedatang seorang tamu, seorang pemuka agama yang bercerita tentang keindahan batu permata. Lalu si pemuka agama ini berkata, “Anakku, kalau kamu memiliki permata sebesar ibu jarimu, kamu akan memiliki seisi kota ini. Dan kalau kamu memiliki permata sebesar kepalan tanganmu, maka seluruh negeri ini akan menjadi milikmu”. Setelah pemuka agama itu pergi, Ali Hafed begitu terkesan. Bahkan, berhari-hari ia tidak bisa tidak membayangkan adanya pertama seperti itu. Sejak itulah Ali Hafed mulai merasa ada yang kurang pada hidupnya. Ia membayangkan betapa menyenangkannya jika hidupnya bisa memiliki pertama seperti itu. Bagaimana tidak? Selama ini, hidupnya begitu miskin.
Pada suatu hari, Ali Hafed membulatkan tekadnya, ia memutuskan untuk menjual rumah serta ladangnya. Anak dan istrinya ia titipkan kepada tetangganya disertai dengan titipan biaya perawatan mereka. Dengan uang yang tersisa, Ali Hafed memutuskan pergi mengembara untuk mencari permata-permata yang luar biasa itu. Dia mencari ke segala penjuru kota bahkan menyeberang ke negeri yang jauh. Selama belasan tahun ia mencoba hingga ia kelelahan fisik, mental dan emosional. Hingga akhirnya, di dalam kemiskinannya, akhirnya Ali Hafed putus asa, lalu tragisnya, ia pun bunuh diri dengan cara terjun ke sungai.
Sementara itu, rumahnya kini sudah ditinggali oleh petani lain yang hidupnya juga sangat miskin. Suatu hari si petani itu sedang membersihkan tubuh untanya di tengah aliran sungai dangkal yang mengaliri melewati pekarangan rumahnya. Saat sedang asyik-asyiknya mencuci, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah batu berkilauan indah di bawah sinar matahari. Sejenak, petani ini terkesima dan karena melihat bentuknya yang menarik, maka si petani ini mengambil batu tersebut dan menaruhnya di rumah sebagai hiasan di ruang tamu. Waktu berjalan. Suatu hari, si pemuka agama yang biasa mengunjungi rumah-rumah penduduk di sekitar itu, bertandang ke rumah petani miskin itu. Saat ia melihat batu yang berkilauan itu, si pemuka agam berkata, “Ini kan batu permata!” Si petani miskin itu dengan tertawa berkata, “Bukan pak, itu bukan batu permata. Itu Cuma batu kali yang saya ambil dari aliran sungai yang ada di depan”. Setelah meneliti batu itu, si pemuka agama itu berkata lagi, “Saya tidak mungkin salah. Kalau saya mengatakan ini batu permata, pastilah ini batu permata”. Maka, dengan perasaan harap-harap cemas, mereka lantas berlari ke aliran sungai di ladang mereka. Ternyata disitulah, mereka menemukan batu permata yang jauh lebih indah dan lebih besar di aliran sungainya. Dan, disitulah untuk pertama kalinya, ditemukan sebuah tambang permata terbesar di dunia.
Kisah ini aslinya berjudul “Acre of Diamond” merupakan kisah inspirasional yang luar biasa. Kisah ini menggambarkan betapa kita sering mencari kesempatan, peluang di luar diri kita, tanpa menyadari bahwa ada banyak potensi dan kesempatan yang terdapat dalam diri kita yang belum tergali. Memang, pada kenyataannya ada begitu banyak potensi dan peluang dalam diri kita yang menunggu untuk dibangunkan dan dimanfaatkan. Sayangnya, banyak di antara kita yang tidak mampu mendayagunakannya.
Apabila pembaca terbiasa membaca buku-buku psikologi, pastilah Anda sudah mengerti bahwa pikiran kita dibagi menjadi dua bagian, kesadaran dan ketidaksadaran. Atau, umumnya, biasa disebutkan sebagai alam sadar dan alam bawah sadar. Sampai disini pembaca mungkin sudah sering mendengarnya. Tetapi, tahukah Anda bahwa ketidaksadaran Anda masih bisa kita bagi lagi menjadi dua bagian, yakni, ketidaksadaran yang meracuni dan yang lainnya, ketidaksadaran yang kreatif, atau CREATIVE UNCONSCIOUSNESS! Ketidaksadaran yang meracuni Anda dapat menjadi sabotase atas keberhasilan Anda. Sebaliknya, apabila Anda bisa menggunakan ketidaksadaran Anda yang kreatif, disitulah terdapat tambang emas dan permata luar biasa yang bisa membuat hidup Anda berubah secara luar biasa. Bob Proctor seorang penulis terkenal dan trainer LifeSuccess Coach, mengatakan “Manusia sebenarnya tidaklah kekurangan uang, tapi kekurangan ide. Jadi permata yang tak pernah habis sebenarnya letaknya tidak jauh-jauh tapi ada pada tambang permata Anda. Semuanya ada pada bagian ketidaksadaran kreatif Anda yang siap untuk digali dan dimanfaatkan. Albert Einstein mendapatkan rumusan penting tentang fisika juga dari ketidaksadaran yang kreatif, ia memperolehnya ketika ia sedang mencukur atau bermain biola. Kadang-kadang jawaban atau ide cemerlang dari bagian ketidaksadaran kreatif ini juga muncul pada saat ketika kita istirahat atau tertidur sehingga muncullah suatu ide atau gagasan keesokan harinya. Muncul begitu saja.
Yang jelas ketidaksadaran kreatif ini merupakan anugrah Tuhan yang luar biasa yang bisa kita manfaatkan. Celakanya, bagian ini seringkali tidak tergali bahkan tertutup oleh ketidaksadaran kita yang justru meracuni. Justru, pengalaman traumatis, pengelaman masa laku yang kelam serta luka barin akhirnya membuat batu pertama yang ada di dalam ketidaksadaran kreatif kita jadi terkubur. Akibatnya, justru ketidaksadaran kita jadinya mensabotase, melukai atau menghambat perkembangan diri kita. Kenyataannya, ketidaksadaran yang meracuni, lebih banyak dilingkupi oleh emosi-emosi yang negatif dan destruktif. Itulah yang membuat kehidupan kita banyak sisi negatifnya. Sebaliknya, dalam kesadaran yang kreatif justru muncul banyak emosi yang positif, penuh pengharapan, konstruktif, optimis, gigih dan penuh keceriaan. Tak mengherankan, jika dikatakan kalau Anda mengharapkan kehidupan yang kaya dan cerdas emosinya, maka Anda perlu belajar menggali lebih banyak dari ketidaksadaran kreatif Anda.

Nah, hingga disini pertanyaannya sekarang adalah bagaimanakah tips memanfaatkan ketidaksadaran kreatif kita?

Pertama, perlakukanlah bagian bawah sadar dengan baik dan ramah. Pada saat Anda melakukan self talk atau bicara batin dengan diri Anda sendiri, berikan kata-kata penguatan yang positif. Misalkan, jangan terlalu sering mengatakan kepada diri sendiri, “Aduh kok diriku bodoh banget ya”, ‘Aiya, bego deh saya”, atau “Why I’m so strupid?” tapi lain kali cobalah untuk bersikap lebih positif, meskipun Anda merasa membuat kesalahan yang tolol, ajarkanlah pada diri Anda sendiri. “Aduh, aku lupa lagi. Ayo dong. Cobalah sebenarnya aku bisa lebih baik kok untuk mengingat hal ini”. Atau misalkan pada saat Anda merasa bisa melakukan sesuatu yang baik dan positif, bicaralah dengan diri Anda dan bawah sadar Anda, “Thank you sudah membangunkan diriku tepat jam 5 pagi” atau “Thank you membuat saya ingat dengan kalimat-kalimat yang tepat pada saat presentasi, sehingga jadi proposal saya diterima”.

Kedua, lakukanlah latihan-latihan yang seringkali diajarkan dalam kelas hypnostherapy. Mulailah dengan merilekskan diri Anda. Dan dalam kondisi yang santai dan rileks, cobalah untuk mengatakan dan memberikan penguatan, bahkan Anda bisa meminta kepada pikiran Anda untuk mencari jawaban atas sesuatu yang menjadi pergumulan hidup Anda.

Ketiga, pada saat sebelum Anda tidur, gunakanlah sedikit waktu sebelum mata Anda terpejam, cobalah untuk kontak dengan bawah sadar Anda. Saat itu Anda bisa mencoba memberikan penguatan yang baik dan positif pada diri Anda. Anda juga bisa mencoba mengajak diri Anda untuk memecahkan masalah yang menjadi problem hidup Anda. Ataupun, Anda bisa membuat komitmen untuk mengubah dan mengatakan pada diri bawah sadar Anda untuk mengurangi atau menghilangkan kebiasaan buruk dan memulai menanamkan kebiasaan yang positif.

Demikianlah. Marilah mulai sekarang kita memanfaatkan ketidaksadaran kreatif, khususnya untuk kehidupan kita yang lebih dahsyat dan bermanfaat.

POTENSI DIRI

HIDUP

Salah satu jalan untuk mencapai ketenangan jiwa. Ketenangan jiwa yang dimaksud di sini adalah salah satu jalan yang harus kita lewati agar kita dapat mencapai kebersihan hati, yang tujuannya adalah kita dapat mengerti akan diri kita sendiri. Sebelum kita melangkah “jauh” mencari “arti kehidupan” ini, marilah kita mulai dari diri kita sendiri. Kita bersihkan segala penyakit hati ini dengan selalu berprasangka positip / baik kepada Sang Maha Penguasa alam semesta ini dan selalu mengingat-Nya serta berserah diri kepada-Nya.
Berbicara mengenai kebersihan hati di sini adalah kita dalam kehidupan ini jangan selalu hanya menggunakan mata kepala / fisik saja, namun marilah kita juga menggunakan mata batin / hati.
Pada umumnya manusia manatap liku-liku kehidupan ini dan berbagai macam keadaan hanya dari mata kepalanya saja, sehingga timbul berbagai macam prasangka antara lain kenapa diri ini selalu mendapat kesusahan, kenapa orang yang durhaka nasibnya baik dan beruntung sedangkan orang yang taat tampaknya hidup serba susah dan tidak beruntung. Lalu terjadi kebimbangan di hati sehingga menganggap Tuhan tidak menyayangi orang-orang yang taat, tetapi justru memberi rahmat bagi orang yang durhaka. Dari prasangka-prasangka tersebut mengakibatkan kebimbangan / keraguan hati.
Coba kita renungkan dalam hidup ini selalu akan ada suatu “masalah”, bukankah Tuhan menciptakan sesuatu itu umumnya selalu berpasangan. Ada siang & ada malam, ada baik & ada buruk, ada miskin & ada kaya, ada susah & ada senang, ada surga ada neraka, dll. Artinya dalam kehidupan ini kita akan menjumpai siang dan malam, susah dan senang, dsb. Semua itu tergantung diri kita sendiri menyikapinya. Coba kita memandangnya dari sudut yang berbeda.
Bukankah kita tahu bahwa benda emas saja yang “mewah” di dunia ini harus mengalami beberapa pengujian dahulu baru dapat dikatakan emas tersebut adalah emas murni. Artinya kita akan mengalami problema hidup ini yang akan meningkatkan kadar “kemurnian / kesucian” hati ini yang dengan sendirinya akan menambah keimanan / keyakinan kita terhadap Sang Pencipta. Dalam ajaran agam Islam para Nabi saja banyak mengalami “ujian” dalam kehidupannya, antara lain ada yang bertahun-tahun tidak mempunyai keturunan kemudian setelah diberikan keturunan Nabi tersebut harus menyembelih putranya sendiri, ada yang sampai dilempari dan diludahi, ada yang sampai dipenjara, dan lain sebagainya.
Dalam melihat sesuatu hendaknya kita juga menggunakan mata hati. Dengan menggunakan mata hati maka kita akan tahu sesungguhnya Tuhan itu Maha Adil dan Maha Bijaksana. Tuhan tidak akan mengubah takdir-Nya sekalipun terhadap orang-orang yang membangkang kepada-Nya. Sesungguhnya janji Tuhan itu benar adanya.
Oleh karena itu hendaknya kita menanamkan keyakinan dalam hati bahwa Tuhan selalu baik kepada hamba-Nya. Lebih-lebih kepada hamba yang taat, yang selalu beriman kepada-Nya. Doa hambanya pasti akan dikabulkan karena Tuhan tidak pernah ingkar janji. Apa yang dijanjikan-Nya pasti akan datang hanya saja kadang-kadang tidak secepat harapan umat-Nya. Karena hanya Tuhan yang mengetahui waktu yang tepat untuk dikabulkan doa / permintaan umat-Nya. Jika kita masih ragu-ragu maka akan menjadi penyakit hati yang akan mempertebal hijab / dinding pembatas kita kepada-Nya.
Demikian dari penulis untuk pertemuan kali ini, semoga dapat bermamfaat bagi kita semuanya. Dan kita termasuk orang-orang yang selalu mendapatkan keselamatan dari-Nya. Amin

HIDUP

Manusia


Aku memang hamba-Mu yang tidak sempurna

Aku hamba-Mu yang juga punya kesalahan

Aku sering melupakan-Mu

Aku selalu mengeluh…..

Aku selalu ingin bahagia…

Aku selalu ingin menang…

Tapi…..

Aku makhluk-Mu yang paling mulia

Aku makhluk-Mu yang paling lengkap…

Akulah penguasa dunia ini…

Aku memiliki sifat-sifat-Mu

Aku bisa menjadi apa saja…

Aku bisa menjadi baik… aku pun bisa jadi jahat…

Aku bisa merusak…. aku pun bisa menjaga dan merawat…

Tuhan-ku….

Aku bisa semua itu karena-Mu…

Aku bisa…. karena kehendak-Mu

Jangan Engkau jauh dariku…

Maafkanlah aku…

Ampunilah aku…

Bimbinglah aku agar selalu di jalan-Mu…

Manusia

KEAGUNGANMU


Aku memang masih sering mengeluh pada-Mu….

Aku memang sering merasa kekurangan….

Aku selalu …. dan selalu… merasakan gundah di hatiku…

Aku mengerti Engkau Maha Penyayang….

Aku mengerti Engkau Maha mengetahui….

Dan aku yakin Engkau selalu menyayangi diriku…

Namun mengapa perasaan Gundah itu selalu menghampiriku….

Aku pingin menjadi hamba-Mu yang tegar….

Aku pingin menjadi hamba terbaik-Mu…….

Aku sadar…. aku mengerti Tuhan-ku….

Aku harus melewati ujian-Mu dahulu…

Aku harus mengalami proses kematangan batinku….

Telah Engkau perlihatkan kebesaran-Mu….

Maafkan aku Tuhan….

Sungguh dahsyatnya kebesaran-Mu….

Sungguh hebatnya perencanaan-Mu….

Memang Engkaulah Sang Maha Pengatur…..

Bimbinglah aku Tuhan….

Jangan Engkau jauh dariku….

Aku takkan mampu tanpa diri-Mu…..

KEAGUNGANMU

IBU

Ibu…….
Setiap takbir itu terdengar……
Ku selalu teringat akan dirimu……
Aku rindu belaianmu…..
Aku rindu pelukanmu…..
Aku rindu kasih sayangmu….
Aku rindu dan menginginkan semua itu……

Ibu…….
Kenapa kau tinggalkan daku…..
Kenapa kau tak pedulikan diriku…..
Aku ini anakmu…….
Kau tak pernah membelaiku….
Saat ku kecil kau menghukumku…
Saat ku kecil kau memarahiku…..
Kau lakukan itu karena aku menggoda adik….

Ibu…..
Saat tidur… kau hanya memeluk adik….
Saat tidur… kau hanya membelai adik….
Saat adik nangis… kau terus menemaninya….
Saat aku nangis… kau suruh kakak…
Aku merasa tak pernah mendapat kasih sayangmu….

Tuhan….
Mengapa Kau ambil ibuku…..
Mengapa Kau pisahkan kami….
Aku sangat menginginkan kasih sayangnya…..
Aku juga ingin seperti anak-anak yang lain….
Di hari yang Fitri ini, mereka dapat berkumpul….
Mereka sangat bahagia….
Sementara aku….. hanya sendiri tanpa siapapun….
Aku juga inginkan bersama ibu…..
Aku juga inginkan belaiannya….

Tuhan….
Kau Maha Mengetahui….
Kau Maha Perencana….
Tak ada yang dapat terjadi tanpa seijin-Mu…..
Kau buat aku begitu kurang kasih sayang ibu…..
Kau buat aku begitu sangat mengharapkan sosok ibu…

Tuhan….
Aku mengerti….
Kau menginginkan aku “kuat”
Kau menginginkan aku “tegar”
Kau buat itu semua karena “takdirku” menjadi pengelana….
Kau buat itu semua karena engkau sayang padaku….
Dapat kubayangkan jika saat ini ibuku masih ada….
Aku tak akan setegar saat ini….
Aku tak akan menghormati ibu seperti saat ini….
Terimakasih Tuhanku…… atas semua yang telah Kau berikan….

Ibu…..
Walau belaianmu tak pernah kurasakan….
Walau kasih sayangmu hanya dapat ku impikan….
Kau tetap ibuku….
Kau tetap cahaya hatiku….
Anakmu siap dan kuat mengarungi hidup ini….
Ku kan selalu mendoakanmu Ibu…
Kau tetap sosok ibu yang sangat ku dambakan….
Semoga Ibu tenang dan damai di alam sana…. Amin.

IBU

HATI YANG TENANG


Para pembaca yang sangat dimuliakan oleh Tuhan yang Maha Penyayang... sekarang penulis mencoba mengajak untuk mengenal diri kita sendiri. Karena Hijab (dinding pembatas) kita dengan hal-hal yang ghaib, ada pada diri kita sendiri.

Untuk membuka hijab tersebut, kita perlu menata diri kita agar terhindar dari penyakit hati. Penyakit hati banyak penyebabnya. Untuk itu mari kita bahas satu persatu.....

Sesuai dengan judul di atas coba kita mengambil pesan dari Ibnu Athaillah yang berbunyi ” Tenangkanlah jiwamu dari urusan duniawi, sebab apa yang telah dijanjikan Allah, janganlah kamu turut memikirkannya”

Kegundahan hati ini pada umumnya disebabkan karena permainan pikiran yang selalu was-was, selalu mengkhawatirkan kejadian-kejadian yang tidak enak yang bakal menimpa kita kelak.

Manusia yang hatinya tidak tenang pada umumnya terlalu mencemaskan hal-hal yang bakal terjadi besok hari, lusa, setahun kemudian, atau masa depannya. Kecemasan ini terjadi akibat perasaan tidak ingin mengalami hal-hal yang tidak beruntung dalam hidupnya. Pada hal kejadian buruk yang dipikirkan belum tentu bakal terjadi.

Orang-orang yang mempunyai mata hati yang tajam akan selalu berpegang pada Surat Ath Thalaq ayat 3, yang artinya ” Barangsiapa yang mau bertawakal (berserah diri) kepada Allah, pasti DIA akan selalu mencukupi kebutuhannya.”

Dengan berpedoman pada ayat di atas, dengan begitu seorang hamba tidak sibuk mengurusi urusan Allah yang kita (manusia) sendiri tidak pernah mengetahuinya, apakah benar-benar hal itu akan terjadi atau tidak pada dirinya.

Kita telah berikrar bahwa kita adalah seorang hamba-NYA. Maka haruslah kita bisa menempatkan diri kita sebagai hamba-NYA. Yang mana seorang hamba tidak mempunyai hak untuk ikut campur urusan Tuannya. Jika seorang hamba masih ikut campur (intervernsi) urusan-NYA, maka tentu hal itu adalah sikap yang tidak tahu diri atau sikap itu adalah tidak sopan.

Seorang hamba haruslah percaya sepenuh hati bahwa Allah-lah yang menetapkan cara dan sarana penghidupan untuk memenuhi kebutuhan makhluk-NYA. Sabda Rasullulah saw. ”Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sepenuh hati, pasti kamu akan mendapatkan rejeki seperti rejekinya burung yang ketika pagi meninggalkan sarang perutnya kosong, ketika sore hari pulang ke sarang perutnya penuh.” [HR. At Turmidzi].

Oleh karena itu, kewajiban kita adalah mengikuti kehendak-NYA dengan senang dan dengan itikad yang baik. Khusyuklah dalam menjalankan ibadah secara benar. Jadilah hamba yang baik, yang patuh dan tak pernah sibuk memikirkan urusan-NYA.

Cobalah kita lihat makhluk ciptaan Allah yang bernama cecak. Padahal dia sangat lemah dan tidak mempunyai kemampuan untuk mengejar rejekinya. Bayangkan, binatang cecak tidak bisa terbang, tetapi makanannya berupa nyamuk yang pandai terbang. Cecak hanya merayap di dinding dan menanti nyamuk datang mendekat. Meskipun demikian, perut cecak tidak pernah kosong. Allah swt. menjamin binatang yang lemah itu dengan rejeki atas kehendak-NYA.

Memang tidak semudah omongan / teori dan prakteknya, namun jika kita tidak mulai dari sekarang untuk selalu mengingat-NYA, untuk selalu bersandar kepada-NYA, maka kita akan selalu menjadi manusia yang merugi.... ibarat buah yang belum matang/masak, akan masih terasa asam/kecut,dll. Tapi jika buah tersebut telah matang hanya akan manis/enaknya saja. Jadi kapan hati atau diri kita ini akan matang jika kita sendiri tidak mempersiapkannya ???

Demikianlah paparan kali ini, kesimpulannya kita harus dapat membersihkan mata hati kita, jangan sampai mata hati kita ini buta atau sakit. Berusahalah, untuk hasilnya kita serahkan kepada-NYA. Semoga kita termasuk orang orang yang selalu mendapatkan keselamatan dari-NYA. Amin.

HATI YANG TENANG

KEYAKINANKU


“IMAN” ….. itulah salah satu kata yang sering kita dengar dalam ceramah agama, pertemuan atau perkumpulan agama, atau dalam pendidikan agama, dll. Karena kata ”IMAN” itulah yang paling utama bagi seluruh kehidupan ini. ”IMAN” memang sangat mudah untuk diucapkan namun cukup berat untuk dilakukan bagi hamba-Nya yang merugi.

”IMAN” dalam bahasa yang umum adalah ”Keyakinan”, karena kata ”IMAN” sendiri berarti diyakini dalam hati, diucapkan oleh Lisan dan dilakukan oleh perbuatan. Berbicara tentang ”IMAN”, umumnya hampir semua orang mengetahui tentang ”IMAN” tersebut. Namun pada umumnya pula, hampir kebanyakan manusia sering melupakan bahwa Iman atau keyakinan tersebut memiliki tingkatan/kwalitas. Dan tingkatan itu hanya dapat ditentukan oleh diri kita sendiri. Salah satu contoh sederhana mengenai Iman atau keyakinan tersebut adalah jika kita merasa beriman atau yakin kepada Tuhan kita sepenuhnya, mengapa kita sering atau terkadang mengeluh, terkadang tidak bersyukur, terkadang takut pada sesuatu selain Tuhan, terkadang kecewa dengan yang telah terjadi, terkadang minder/rendah diri, dan masih banyak lagi hal2 yang apabila dipikir2 sepertinya manusia tersebut tidak sepenuhnya yakin kepada Tuhannya. Karena jika manusia tersebut yakin atau beriman kepada Tuhannya, maka hal2 yang terjadi adalah seijin dan sepengetahuan Tuhanlah semua itu terjadi (Tuhan Maha Pengatur/Perencana), Tuhan Maha segala-galanya.

Terkadang manusia selalu mendahulukan yang menurutnya enak baginya untuk mengelak dari kesalahan atau tidak mau dibilang kurang beriman. Contohnya ada beberapa manusia yang mengatakan kami kan bukan ”Malaikat” yang hanya patuh dan tidak pernah mengeluh kepada Tuhan, dll. Pada hal coba kita telaah atau menengok ke belakang dulu.... bukankan Manusia adalah mahkluk ciptaan-Nya yang paling mulia, bukankah dulu Malaikat dan Jin/Setan diperintahkan Tuhan untuk menyembah/menghormati Nabi Adam (manusia)..... Artinya bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan menjadi mahkluk yang paling mulia. Coba kalian pikirkan.... hal apa yang tidak dapat dilakukan manusia.... Semua dapat dilakukan manusia... Manusia bisa melakukan yang ”baik” melebihi Malaikat dan manusia juga bisa melakukan yang ”buruk” melebihi Jin atau setan..... Dan semua itu tergantung manusia itu sendiri yang memilihnya.

Dengan dasar di atas itulah, penulis mencoba mengajak pembaca mari kita bersama-sama untuk terus meningkatkan keimanan atau keyakinan kita kepada Tuhan yang Maha Penyayang. Bagaimana caranya ?? Mulailah dari yang dapat kita lakukan, misalya berusaha selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh-Nya. Coba kita bayangkan betapa Pemurahnya Tuhan yang telah memberi udara secara gratis untuk kita agar kita tetap hidup (dapat bernapas), coba jika diwajibkan untuk membayarnya.

Dari gambaran di atas, mengenai rasa kurang bersyukur, kecewa, mengeluh, dll. Itu semua adalah perasaan yang normal yang pasti dialami oleh hampir semua manusia. Dan perasaan itulah salah satu bentuk ujian dari Tuhan untuk umat-Nya. Untuk membedakan umat pilihan-Nya dan umat yang biasa saja. Dan semua itu juga tergantung pilihan diri pribadi kita juga, mau menjadi kekasih Tuhan atau menjadi manusia yang merugi. Jika belajar dari Alam semesta, coba kita lihat buah. Buah jika belum matang akan masih terasa kecut, pahit, dll. Namun jika buah itu sudah matang, yang terasa hanya yang manis atau enaknya saja. Apakah kita manusia tidak ingin menjalani hidup ini dengan hati yang tenang, tentrem karena selalu bersandar kepada Tuhan yang maha Esa ?

Bagi penulis, ”IMAN” atau keyakinan itu harus sering diasah atau ditingkatkan agar kita dapat menjadi manusia yang tidak merugi. Salah satu caranya adalah dengan menjalani hidup ini dengan selalu mengingat-Nya, misalnya selalu mencoba mengambil hikmah dari setiap kejadian, selalu berpikiran positip, selalu bertakwa kepada-Nya, dll.

Demikian paparan kali ini, semoga bermamfaat. Ingatlah bahwa Tuhan selalu bersamamu. Berusahalah, untuk hasilnya kita serahkan kepada-NYA. Semoga kita termasuk orang orang yang selalu mendapatkan keselamatan dari-NYA. Amin.

KEYAKINANKU

MAWAS DIRI

Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, darimana kita belajar IKHLAS. Jika semua yang kita impikan segera TERWUJUD, darimana kita belajar SABAR. Jika setiap doa kita terus DIKABULKAN, bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR. Seorang yang dekat dengan Tuhan, bukan berarti tidak ada air mata. Seorang yang taat pada Tuhan, bukan berarti tidak ada kekurangan. Seorang yang tekun berdoa, bukan berarti tidak ada masa sulit. Biarlah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena Dia tahu yang tepat untuk memberikan yang terbaik. Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETULUSAN. Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar KEIKHLASAN. Ketika hatimu terluka sangat dalam.., maka saat itu kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN. Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN. Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETANGGUHAN. Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KEMURAHAN HATI. Tetap semangat...Tetap sabar....Tetap tersenyum...! Karena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN. Semoga semua .


MAWAS DIRI